|
Mei
04
|
Assalamu’alaikum
Wah ternyata lama juga ya saya ga update blog ini
Hehehe, ya hiatusnya saya yang agak lama ini jujur dikarenakan 2 hal, yang pertama tentunya test mid semester kemarin , dan yang kedua, yang saat ini masih berjalan juga yaitu saya sedang sibuk mempersiapkan diri menghadapi OSN.
Seleksi tingkat kabupaten sudah dilaksanakan tanggal 10 April. Dan saya mendapat hasil yang lumayan, saya meraih peringkat 3 dalam seleksi tingkat kabupaten kemarin. Itu berarti saya mendapatkan tiket untuk mengikuti seleksi tingkat propinsi yang akan diadakan pada awal Juni mendatang. Alhamdulillah
Pada Jum’at, 2 Mei 2008 kemarin, di berbagai daerah di seluruh Indonesia diadakan peringatan Hardiknas( Hari Pendidikan Nasional). Pada peringatan Hardiknas kali ini saya sangat mengharapkan pendidikan di Indonesia dapat maju di tahun-tahun mendatang.
Saya berharap Ujian Nasional akan dihapuskan secepat mungkin (kalau bisa tahun depan sudah ga ada, jadi saya ga perlu ikut UN tahun depan, kekekeke
), mengingat bahwa menurut saya UN itu lebih banyak membawa kemudharatan dibandingkan manfaat. Selain itu, mengingat Ayah saya adalah seorang guru, saya sangat mengharapkan kesejahteraan guru agar semakin diperhatikan pemerintah. Saya juga sangat mengharapkan Uang Tunjangan bagi Guru yang Lolos Sertifikasi segera turun, soalnya Ayah saya sudah lolos sertitifikasi beberapa bulan yang lalu, tapi uang itu tak kunjung datang. Mana uangnya, pemerintah? hehehehe
Selain itu pada kesempatan kali ini saya ingin membahas suatu hal, tapi maaf kalau agak ngawur dan datanya kurang akurat
Ya, saya ingin membahas yang namanya mutilasi. Saya yakin pembaca sekalian pasti tau apa itu mutilasi, ya kan? Kata ini serbaguna, tapi yang paling umum artinya adalah pembunuhan sadis, dengan korban yang dipotong-potong tubuhnya. Selain itu, yang ngetrend lagi adalah yang biasa disebut mutilasi Ayat Al Quran, dimana ayat Al Quran dipenggal-penggal untuk kepentingan kelompok tertentu. Tapi saya tidak akan membahas dua jenis mutilasi tadi.
Mutilasi yang akan saya bahas kali ni adalah mutilasi motto. Ya, ini masih berhubungan dengan peringatan hardiknas dan pendidikan di Indonesia. Para pembaca tentu tau, bahwa motto pendidikan kita, itu lho yang berada di atas logo pendidikan, bertuliskan Tut Wuri Handayani
Nah motto tersebut adalah hasil mutilasi! Ya, seperti yang saya pelajari pada pelajaran sejarah SD dan SMP, semboyan itu, yang dicetuskan oleh Ki Hajar Dewantara lengkapnya adalah Ing Ngarsa Sung Tuladha (Didepan memberi Teladan), Ing Madya Mangun Karsa (Di Tengah membangun Semangat), Tut Wuri Handayani (dari belakang memberikan dorongan). Nah ternyata semboyan ini dimutilasi oleh pemerintah, dengan hanya mencantumkan Tut Wuri Handayani-nya saja dalam logo pendidikan nasional kita.
Hal ini menimbulkan tanda tanya tersendiri bagi saya. Karena menurut saya pribadi, semboyan itu baru akan bermakna bagus apabila disajikan secara utuh. Apa karena yang di depan itu (para petinggi pendidikan) ogah “sung tuladha” ? Apa karena para pejabat pendidikan yang di tengah, ataupun para guru itu ogah”mangun karsa”? Apa karena para siswa saja yang dituntut “handayani” saja dan yang di atasnya itu bebas dari tanggung jawab? Entahlah.
Mungkin juga karena kata Tut Wuri saja yang dipakai itu, pendidikan kita selalu “nang mburi” alias terbelakang alais ketinggalan dibanding Negara lain.
Ah entahlah, yang jelas saya merasa tidak sreg dan tidak setuju atas pemutilasian motto tersebut.
Sekian tulisan saya kali ini
Wassalamu’alaikum
*balik lagi bertapa belajar untuk menghadapi seleksi tingkat propinsi OSN*
33 Responses to “Peringatan Hardiknas dan Mutilasi Motto”
Leave a Reply







Mei 4th, 2008 at 13:50
tulisan yang menarik dan kritis, fadhiel. yups, selamat yak OSN-nya. seleksi kabupaten sdh dilewati. di provinsi fadhiel harus tampil lebih bagus. buru soal2 di internet kan banyak tuh. kalau ada yang sulit, tanya sama guru pembimbingnya. btw, ttg mutilasi motto, nah, saya juga barus sadar tuh kalau ada proses pemotongan motto ki hajar itu. memang bterkesan tdk utuh. tapi memang motto itu kan mesti singkat, ringkas, padat, dan jelas biar pembaca juga bisa cepat hafal dan ngeh maksudnya geto. kalau misalnya ketiga motto itu dicantumkan sekaligus di sebuah logo kira2 dari sisi estetika gima, yak, fadhiel. pasti hurufnya jadi kecil2 toh, hehehehehe :lol: wew… ttg tunjangan profesi guru, waduh, kenapa juga dah mengantongi sertifikat pendidik kok haknya belum juga dikeluarkan dari pundi2 pemerintah, repot!
Mei 4th, 2008 at 13:59
Makasih Pak
Yup, saya akan berusaha keras unutk seleksi provinsi besok.
tapi kan makna motto itu jadi kurang bagus Pak
iya Pak, proses keluarnya duit yang keluar dari pemerintah memang suka berbelit prosesnya, semoga cepet turun tuh duit, biar saya cepet dibeliin motor baru sama Ayah, hehehehehe
guru pembimbing? saya belajar mandiri alias otodidak pak
Mei 4th, 2008 at 17:09
ADA 3 KOMPONEN MEMANG
1. PIMPINAN / YANG DI DEPAN
2. ORGANISASINYA
3. DIRI KITA
apabila 1 dan 2, berada di luar jangkaun
maka pilihan kita pada yang ketiga
dan FADHIEL SUDAH MEMBUKTIKANNYA
SUPER SEKALI.
Mei 4th, 2008 at 19:18
Haiyah, miris ngeliat pendidikan sekarang. -_-
Apa jangan-jangan cropping semboyan tersebut yang secara tidak langsung mempengaruhi pendidikan kita?
[sarcasm]
Yah, atau jangan-jangan yang seharusnya bertanggungjawab atas pendidikan di Indonesia ini bahkan ada yang nggak tau makna semboyan tersebut? -_-
[/sarcasm]
Sukses untuk OSN-nya ya.
Dan saya doakan supaya tunjangan untuk ayah Anda (beserta guru-guru lain) segera turun
Mei 4th, 2008 at 22:01
weits..nice post niy
benar…saya dulu juga bertanya-tanya kenapa yang diambil cuma kalimat terakhir. padahal dua kalimat sebelumnya saling mendukung kalimat terakhir ini.
mudah2an..kualitas pendidikan kita semakin baik..
tunjangan untuk guru dan dosen juga naik :lol:
eniwei, congrats atas kelolosannya…mudah2an bisa maju ke tahap berikutnya
Mei 5th, 2008 at 03:05
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
KALO MAU BIKIN BLOG, JANGAN LUPA MASUK SITUS “Leoxa.com”
(Themenya Keren Abiss & Bisa Pake Adsense)
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Mei 5th, 2008 at 06:51
Wah…. saya ucapkan mudah2an sukses nanti dalam menghadapi OSN-nya.
Huahaha…. memang orang2 Indonesia seringkali pandai memanipulasi semboyan entah dengan memotongnya atau dengan cara lain. Ada juga pedagang kain
keturunan Arabyang menuliskan garansi “Dijamin Tidak Luntur”, setelah terbukti kainnya luntur si pedagang bilang “Lah, ini tulisan garansinya dibaca seperti huruf Arab, dari kanan ke kiri!”.Mei 5th, 2008 at 13:24
*simpan dulu ah*
Mei 5th, 2008 at 13:52
tetep semangatttttttttttttttttttttttttt
Mei 5th, 2008 at 20:01
selamat datang kang , dah lama juga
kangen
eh akhirnya ada postingan juga
semangat terus kang
Mei 6th, 2008 at 08:05
semoga pendidikan di Indonesia semakin maju,,
Mei 6th, 2008 at 13:59
wah…gak heran deh kalo disini maen mutilasi aja.. :roll:
Mei 7th, 2008 at 18:03
saya hanya komen…selamat atas keberhasilan peringkat 3 seleksi kabupaten
Mei 7th, 2008 at 19:54
Ndak bisa komen banyak-banyak karena sudah disebutkan di atas.
Jadi ya pemilihan namanya dipotong saja, asal penerapannya jangan ikut kepotong juga (jangan-jangan di Indon kayak begini nih?
)
Motto itu memang sebaiknya jangan panjang-panjang.. soalnya saya pernah diprotes ngasih motto yang kepanjangan meski artinya lumayan.
Eniwei, semoga sukses OSN-nya! Jangan kayak saya yang gagal di olimpiade komputer tahun lalu.
Mei 11th, 2008 at 09:09
perlu di benerin tuch….
Mei 11th, 2008 at 15:55
@ILYAS AFSOH
Makasih
Betul Bang
@Cynanthia
nah itu dia,
saya juga berpikir gara-gara pemutilasian itu mempengaruhi pendidikan Indonesia
Thanks ya
Amin! Semoga saja
@wennyaulia
Amin ya robbal ‘alamin!
Amin, thanx ya
@Yari NK
wah cerdik juga ya tuh penjual
Amin Pak, makasih ya
Mei 11th, 2008 at 16:01
@Strife Leonhart
@aRya
@realylife
@cK
@Xaliber
Abeeayang™
Silahkan
OK!
yup, hidup memang harus semangat!
@hanggadamai
Amiin
Iya, di Indonesia memang sudah sering…
@syahrizal pulungan
Makasih mas
Yup, thanks ya
Apanya bang?
Mei 11th, 2008 at 17:56
menunggu postingan terbaru
Mei 12th, 2008 at 15:44
kenapa tidak sekalian kita minta pemerintah untuk tidak melaksanakan seleksi OSN?? tidak usah ada itu yang namanya “seleksi” aka “ujian”…
ujian nasional itu tujuannya kan untuk standardisasi mutu pendidikan nasional… karena, menurut pengalaman, jika pelaksanaan ujian akhir dilaksanakan oleh masing2 sekolah “setiap sekolah akan melakukan apapun untuk meluluskan siswanya, semua siswa diluluskan…”
makanya pemerintah berinisiatif untuk mengadakan UN. pelaksanaannya dikontrol pusat. terstandar..
nah, karena memang dari awal sudah terjadi kesenjangan pada mutu pendidikan negara kita tercinta ini, muncullah masalah: daerah A protes karena merasa “mutu pendidikannya tidak sama dengan daerah lain”, B juga protes gak usah aja ada UN..
katanya mau maju, tapi UN aja gak mau..
kita memang terbiasa dengan standar ganda..
Mei 12th, 2008 at 16:43
seleksi OSN itu tingkat kecurangannya hampir nol persen
tapi nyatanya gagal khan? standarisasinya apanya kalau ternyata hanya menimbulkan “yang penting lulus”
apa bedanya dengan “jika pelaksanaan Ujian Akhir dilaksanakan oleh pemerintah, dan tetap saja hampir tiap sekolah akan melakukan apapun untuk meluluskan siswanya” ?
nah, karena memang dari awal sudah terjadi kesenjangan pada mutu pendidikan negara kita tercinta ini, muncullah masalah: daerah A protes karena merasa “mutu pendidikannya tidak sama dengan daerah lain”, B juga protes gak usah aja ada UN..
lha wong fasilitasnya aja senjang, ya mutunya juga senjang lah…
coba lihat berapa banyak sekolah ambruk yang terbengkalai di negeri ini?
emangya UN itu bikin maju Mas? Maju kebobrokannya ya maksudnya? :lol:
standar saya sih cukup satu aja, hapuskan UN!
apa gunanya test2 macam ulangan harian, mid smester dan semester (ringkasnya nilai rapor) kalau kelulusan hanya ditentukan oleh UN?
jadi menurut saya penentuan kelulusan juga harus menengok pada nilai rapor kelas 1, 2 dan 3. lalu Ujian diadakan oleh sekolah masing-masing, kan sudah menjadi hak guru untuk menentukan kelulusan muridnya, bukan hak pemerintah
Mei 12th, 2008 at 18:02
Hidup pendidikan Indonesia!!
Mei 13th, 2008 at 09:22
Hiduuuup!
Mei 13th, 2008 at 09:32
Hore Liburr!!! Eh salah…
tanggal 10 April. << ini liburnya..
Gw asik2 maen game ternyata lu sibuk…
Setidaknya ada beberapa info yg bisa gw dapat darisini…
Bapakmu guru ye… Enak dong bisa dapet les gratis?
Ngomong ke SBY wkakaka… (UN dihapuskan? hmm….)
Mei 13th, 2008 at 09:55
Les Gratis? Engga kok, malah bapak saya sibuk ngelesin anak orang lain
Besok aja kalau aku dah jadi Presiden, UN kuhapus, hehehehe
Mei 13th, 2008 at 10:53
hari gini UN ??
wakakka…..
gak adil nih UAN
masa yg dikota ama desa patokannya sama
gimana tuh ama guru2 yg malas ngajar di daerah pedesaan?
kan kasian murid2nya toh..
Mei 13th, 2008 at 11:05
Setuju Mas!!!
Mei 13th, 2008 at 13:46
dari dulu saya juga mikir gitu,, akan saya ubah semboyan pendidikan bila saya menjadi Mendiknas.. sekalian revolusi pendidikan™ aah
:D
Mei 13th, 2008 at 14:15
Yup… akhirnya mas break datang lagi.. yup.. postingan yang menarik dan kritis.. saya juga sempat mikir gitu.. betul kata pak sawali.. motto itu mesti singkat, ringkas, padat, dan jelas biar pembaca juga bisa cepat hafal.. n mungkin juga di gambar logo g muat untuk ditulis utuh :lol:
Btw selamat mas berhasil lolos OSN di tingkat propinsi.. Smangat n Sukses!
Mei 13th, 2008 at 19:19
Ikutan komen.
Soal kelulusan ditentukan oleh sekolah, saya agak kurang setuju. Bukannya apa, tapi kebanyakan guru cenderung subjektif kalau sama muridnya. Maunya semua murid lulus seperti kata mas morishige di atas.
Dalam rapat guru biasanya juga akan ada lomba argumen (antara pro lulus dan kontra lulus) untuk menentukan nasib muridnya.
Biar gimana saya rasa warga negara kita masih perlu perbaikan moral dan mental.
Selama yang namanya toleransi berlebih sulit dihindari (aka kerjasama), maka sulit untuk melangkah ke depannya.
Btw kalau dipikir pemerintah repot juga. UN 3 pelajaran (pelajaran dasar) kena protes, 6 mata pelajaran (ditambah matpel program) kena protes juga. Kalau nanti UN dihapus apa yang akan terjadi ya.. diprotes karena tak ada standarisasi nasional dan kelulusan murid yang subjektif?
Mei 13th, 2008 at 19:35
Salam
BTW salam kenal, sukses terus ya. Amin
Motto itu enaknya yang gampang dan mudah diingat meskipun kadang sulit dilakukan
Mei 13th, 2008 at 19:51
hehehe..sepertinya ada benarnya juga, bagaimana kalo ditambah “alon-alon waton kelakon”.
Mei 14th, 2008 at 02:12
UN sistem per sekolah aja
Mei 14th, 2008 at 10:10
@Strife Leonhart
yup, makasih atas dukungannya
Xaliber
Makasih atas doanya
@kabarihari
@aRuL
Diganti jadi apa Mas semboyannya?
@azaxs
iya, tapi kan artinya nanti jadi cuman sepotong2
yah memang dari awalnya sudah salah, jadi mau langkah apa saja ke depan ya jadinya tetap serba salah… saya juga bingung…
nenyok
Salam kenal juga
wah entar pendidikan jadi superlamban donk Mas?
hmm, boleh juga tuh…